Yayasan
Lembaga
Bantuan Hukum
APIK Jakarta

 

Jl. Raya Tengah No.31 Rt. 01/09, Kramatjati, Jaktim 13540
 

Ph: 021-87797289
Fax: 021-87793300
apiknet@centrin.net.id


"APIK dalam Pelayanan, APIK dalam Pengelolaan"

 




LBH APIK Jakarta
adalah lembaga yang bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang adil, makmur dan demokratis, serta menciptakan kondisi yang setara antara perempuan dan laki-laki dalam segala aspek kehidupan, baik politik, ekonomi, sosial maupun budaya. Tujuan ini hendak dicapai dengan mewujudkan sistem hukum yang berperspektif perempuan yaitu sistem hukum yang adil dipandang dari pola hubungan kekuasaan dalam masyarakat, —khususnya hubungan perempuan dan laki-laki— , dengan terus menerus berupaya menghapuskan ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender dalam berbagai bentuknya.

         
 

◊●◊

 


 


 


 
 
 
 
 
 
 
 
◊●◊
 
 

◊●◊

 

 



Lembar info seri 24

PENYALAHGUNAAN SEKSUAL
TERHADAP ANAK


APAKAH PENYALAHGUNAAN SEKSUAL TERHADAP ANAK ITU?

Penyalahgunaan seksual terhadap anak adalah perbuatan pemaksaan untuk melakukan hubungan seks maupun aktivitas seksual lainnya yang dilakukan orang dewasa terhadap anak-anak, dengan kekerasan maupun tidak.

Penyalahgunaan seksual terhadap anak-anak dapat terjadi di berbagai tempat tanpa memandang budaya, ras dan strata masyarakat.

Korbannya bisa anak laki-laki maupun anak perempuan,tetapi umumnya anak perempuan berusia di bawah 18 tahun.


BENTUK PENYALAHGUNAAN SEKSUAL ANAK

Bisa berupa hubungan seks, baik melalui vagina, penis, oral, maupun dubur/anal, dengan menggunakan alat, sampai dengan memperlihatkan alat kelaminnya. Bentuk lainnya, menyentuh alat kelamin korban atau memaksa korban untuk menyentuh alat kelaminnya; melibatkan anak-anak dalam pornografi, misalnya memperlihatkan gambar atau tulisan erotis dengan tujuan membangkitkan nafsu birahi, termasuk juga memperlihatkan kepada anak-anak alat-alat seperti kondom, gambar orang tanpa busana dan sebagainya.


SATU BENTUK DOMINASI LAKI-LAKI

Baik laki-laki maupun perempuan berpotensi menjadi korban atau pelaku penyalahgunaan seksual terhadap anak. Tetapi, karena penyalahgunaan seksual ini merupakan bentuk dominasi laki-laki terhadap perempuan dan anak, maka pada kenyataannya kebanyakan pelaku adalah laki-laki dan korban adalah perempuan. Umumnya pelaku mengenal korban, misalnya anggota keluarga atau seseorang yang dikenal dekat dan dipercayai oleh si anak (seperti kakak, paman, pembantu, ayah tiri, saudara sepupu dan sebagainya).

Sering orang beranggapan bahwa orang yang mampu melakukan perbuatan itu pada anak-anak adalah orang yang punya penyakit kelainan jiwa (psikopat). Mitos ini masih dipercayai banyak orang sampai saat ini, padahal kenyataannya kebanyakan pelaku adalah seorang yang normal dan bahkan berpendidikan tinggi.


CARA YANG BIASA DILAKUKAN PELAKU

  • Pelaku akan memilih anak-anak yang mempunyai hubungan dekat dengannya sehingga pelaku mengetahui kondisi anak-anak serta memiliki akses terhadap anak-anak. Tetapi tidak tertutup kemungkinan pelaku juga orang yang tidak dikenal korban

  • Membujuk anak-anak dengan sesuatu yang sangat disukai anak-anak, seperti permen, uang atau es krim.

  • Berlangsung di kediaman anak-anak tersebut atau di tempat tinggal pelaku dan umumnya pelaku tidak menggunakan kekerasan fisik.

  • Pelaku akan melakukannya secara terus menerus dalam waktu yang cukup lama.

  • Pelaku mengancam agar anak-anak tidak menceritakan kejadian itu kepada siapapun. Ini adalah faktor utama penyebab anak-anak tetap membisu.


CIRI FISIK KORBAN

Waspadai bila anak anda memperlihatkan ciri-ciri seperti:

  • Terlihat seperti orang yang sangat kesepian dan terasing

  • Mengalami depresi, kekhawatiran yang berlebihan dan cenderung menarik diri dari lingkungannya

  • Sering buang air kecil di tempat tidur (ngompol)

  • Sulit bersosialisasi dengan orang lain dan sulit berkonsentrasi

  • Tiba-tiba sering menggunakan kata-kata jorok dan suka menunjukkan alat kelaminnya pada anak lain

  • Mengalami iritasi pada bagian leher kelamin, sekitar dubur (anal) dan wilayah alat kemaluan, sehingga seringkali celana dalam berdarah

  • Sukar berjalan dan duduk

  • Lambat dalam pertumbuhan dan perkembangan


ANCAMAN HUKUMAN BAGI PELAKU PSA

Siapapun pelakunya, dimanapun terjadinya dan bagaimanapun cara yang dilakukan, penyalahgunaan seksual terhadap anak ini adalah kejahatan dan pelakunya harus dihukum. Dalam KUHP, perbuatan seperti yang dijelaskan di atas dikategorikan sebagai perbuatan cabul. Pada pasal 287 KUHP, dinyatakan bahwa orang yang bersetubuh dengan anak dibawah 15 tahun atau belum mampu dikawin. Sementara pasal 290 dan pasal 292, KUHP mengancam hukuman pidana maksimal tujuh tahun penjara bagi siapa saja yang:

  • Bersetubuh dengan anak di bawah umur 15 tahun atau tidak/belum mampu dikawin;

  • Membujuk seseorang yang diketahuinya belum berumur 15 tahun, untuk melakukan atau membiarkan perbuatan cabul dengan dirinya atau bersetubuh dengan orang lain;

  • Melakukan perbuatan cabul dengan orang yang belum dewasa dari jenis kelamin yang sama.


KEWAJIBAN NEGARA

Dengan mengacu pada pasal KUHP di atas, jelas telah ada perlindungan terhadap korban penyalahgunaan seksual anak, tinggal bagaimana pelaksanaannya saja. Hal ini dikuatkan pula dengan diratifikasinya Konvensi Internasional mengenai Hak Anak, melalui Keppres No. 36 tahun 1990, pasal 34 yang intinya mewajibkan negara melindungi anak dari segala bentuk eksploitasi dan penyalahgunaan seksual.


AGENDA AKSI

Sementara itu dalam World Congress against Commercial Sexual of Children yang dilaksanakan di Stockholm pada 27-31 Agustus 1996 yang lalu (Indonesia juga mengirim delegasi resmi saat itu), dengan suara bulat menghasilkan "Deklarasi dan Agenda Aksi" yang mewajibkan negara untuk melakukan pemberantasan dan pencegahan eksploitasi seksual komersial terhadap anak.


BAGAIMANA MELINDUNGI ANAK ANDA DARI PSA

  • Ciptakan suasana rumah yang bebas dan nyaman yang akan mendorong anak mendiskusikan segala hal dengan bebas tanpa rasa takut, termasuk kekerasan yang dialaminya, terutama jika itu terjadi di dalam lingkungan keluarga.

  • Anak-anak perlu tahu apa itu PSA dan anda harus menemukan bahasa sederhana yang dimengerti oleh anak-anak.

  • Ajari anak-anak perbedaan antara sentuhan yang bermaksud baik dan sentuhan yang bermaksud tidak baik.


JIKA ANAK ANDA MENJADI KORBAN PSA

Jika anak anda menjadi korban penyalahgunaan seksual, langkah-langkah yang dapat anda lakukan adalah:

  • Jangan panik, beri dukungan dan penghargaan pada anak anda atas keputusannya berbicara/bercerita pada anda atau pasangan anda. Yakinkan bahwa, mengatakan semua yang terjadi adalah hal yang benar dan bahwa yang terjadi bukanlah kesalahan dia.

  • Percayailah anak anda. Beri dia simpati, pengertian dan bersikaplah optimis. Ini akan sangat membantu dia menyingkap kasus dan mendiskusikannya.

  • Konsultasi dengan dokter untuk meyakinkan bahwa anak anda tidak mengalami penyalahgunaan secara fisik dan pertimbangkan juga untuk melakukan konseling atau terapi bagi dia.

  • Setelah anda mengetahui bahwa anak anda mengalami PSA, segera laporkan pada polisi atau pihak berwenang lainnya. Mintalah bantuan pada lembaga yang peduli pada persoalan anak dan perempuan untuk mendampingi anda meminta perlindungan hukum bagi anak anda.

Kembali ke daftar Lembar Info lainnya


--◊ Informasi ini dapat diperbanyak dengan mencantumkan sumbernya ◊--

2010, LBH APIK Jakarta; Jl. Raya Tengah No.31 Rt. 01/09, Kramatjati, Jakarta Timur 13540
Telp. 021-87797289, Fax.: 021 - 87793300, e-mail: apiknet@centrin.net.id