Kunjungan ke Workshop Sarop Do Mulana

by
Workshop

lbh-apik.or.id – Ketika kami tiba di depan workshop kayu Sarop Do Mulana, suara mesin pemotong kayu yang nyaring menyambut kedatangan kami. Julfikri Harahap, Sekretaris Koperasi Sarop Do Mulana, menyapa kami dengan ramah dan mengajak berbincang sambil menyelesaikan pekerjaan memotong palet kayu bekas dari PT Agincourt Resources (PTAR). Julfikri, yang akrab disapa Fikri, menceritakan bahwa koperasi ini adalah kumpulan orang-orang yang peduli akan pengelolaan sampah. Sarop Do Mulana, yang berarti “berawal dari sampah” dalam bahasa Batak. Muncul pada 2016 sebagai respons terhadap buruknya pengelolaan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Batang Toru, Tapanuli Selatan.

” Baca Juga: Kota Surabaya dan Jakarta Mengalami Suhu Terpanas “

Inisiatif Mengelola Sampah

Fikri mengisahkan bahwa sampah di TPST tidak pernah dikelola dengan baik. Sehingga koperasi ini memulai inisiatif untuk memilah sampah yang bisa dimanfaatkan, khususnya sampah dari PTAR. Sampah dari PTAR dikirim berdasarkan jenisnya, baik organik maupun anorganik. Fikri dan teman-temannya mengolah sampah organik seperti sisa makanan pekerja tambang menjadi pupuk kompos. Sementara sampah organik yang tidak berlimpah digantikan dengan kotoran hewan untuk dijadikan pupuk kandang. Sebelum mendapatkan pembinaan dari PTAR, mereka hanya fokus pada sampah organik tanpa memanfaatkan limbah palet kayu.

Kolaborasi dengan PTAR

Awalnya, warga sekitar sering meminta pekerjaan di PTAR, namun banyak yang tidak memenuhi kualifikasi yang ditetapkan perusahaan. Oleh karena itu, PTAR memutuskan untuk memberdayakan mereka melalui pembinaan Workshop di Sarop Do Mulana. Koperasi ini kemudian dibagi menjadi dua kelompok: satu yang mengelola sampah organik dan satu lagi yang memanfaatkan limbah palet kayu. Fikri memilih bergabung dengan kelompok pemanfaatan limbah kayu, dan berkat pembinaan PTAR, mereka menjadi lebih produktif.

Baca Juga :   Perubahan Cepat Batas Usia Calon Kepala Daerah oleh MA

Mengolah Limbah Kayu menjadi Furnitur

Fikri menjelaskan bahwa dia dan delapan rekannya mengelola limbah palet kayu di workshop dengan membagi palet ke dalam beberapa kategori. Palet yang masih dalam kondisi baik diolah menjadi bahan dasar furnitur seperti meja, kursi, dan tempat tidur. Sedangkan palet yang sudah tidak layak dilebur dan diolah sebagai pupuk. Jenis kayu yang biasa digunakan adalah kayu sengon atau kayu jati, yang menghasilkan furnitur berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau. Sebagai contoh, meja belajar dijual mulai dari Rp 300.000 dan alas tempat tidur lengkap dengan lemari dibanderol kurang dari Rp 1.000.000. Harga yang lebih murah ini menarik banyak pembeli dan calon mitra.

” Baca Juga: Menikmati Sensasi di Situ Cileunca Pangalengan, Bandung “

Penghasilan dan Harapan Masa Depan

Sejak dibina oleh PTAR, Fikri mampu menggaji setiap anggota koperasi dengan upah bulanan sekitar Rp 3.000.000, belum termasuk bonus yang mungkin diberikan tergantung hasil penjualan furnitur. Fikri berharap koperasi ini terus berkarya dan menciptakan banyak furnitur cantik untuk rumah warga. Dia juga berharap PTAR terus sukses agar suplai limbah palet kayu tetap berkelanjutan, memungkinkan mereka untuk terus bekerja hingga tua nanti.

No More Posts Available.

No more pages to load.