Penipuan Pinjol di Jaktim: Pelamar Kerja Ditagih Hutang

by

lbh-apik.or.id – Kasus penipuan yang melibatkan pinjaman online (pinjol) kembali mencuat di Jakarta Timur, kali ini dengan modus yang sangat licik. Seorang warga Ciracas, Muhammad Lutfi, menjadi korban penipuan yang dilakukan oleh seorang oknum karyawan toko ponsel. Kejadian ini menambah panjang daftar korban yang menjadi sasaran penipuan melalui modus pinjaman online yang semakin marak di tengah masyarakat.

” Baca Juga: Prediksi Pilgub Jateng 2024: Potensi Pertarungan PDIP vs Jokowi “

Kronologi Kasus Penipuan

Muhammad Lutfi, seorang warga Ciracas berusia 31 tahun, mengungkapkan bahwa ia dan 26 orang lainnya menjadi korban penipuan yang dilakukan oleh seorang karyawan toko ponsel di Pusat Grosir Cililitan (PGC), Jakarta Timur. Kasus ini dilaporkan kepada pihak berwajib setelah data pribadi para korban, yang terdiri dari KTP dan ponsel, disalahgunakan oleh pelaku untuk mengajukan pinjaman online tanpa sepengetahuan mereka.

Awalnya, Lutfi bersama puluhan pelamar kerja lainnya dijanjikan pekerjaan oleh seorang karyawan toko ponsel bernama R. Sebagai syarat untuk mendapatkan pekerjaan tersebut, R meminta para pelamar menyerahkan KTP dan ponsel mereka bersamaan dengan surat lamaran pekerjaan. Modus operandi yang dilakukan pelaku ternyata melibatkan pencurian data pribadi yang kemudian digunakan untuk mengajukan pinjaman online pada berbagai platform, seperti ShopeePay Later, Adakami, Home Kredit, Kredivo, dan Akulaku.

Modus Penipuan dan Kerugian Korban

Setelah data pribadi para pelamar kerja terkumpul, R, tanpa sepengetahuan korban, menginstal aplikasi tertentu di ponsel mereka. Beberapa waktu kemudian, para korban mulai menerima notifikasi tagihan dari berbagai platform pinjaman online. Meskipun mereka tidak pernah mengajukan transaksi tersebut. Total kerugian yang dialami oleh 27 korban ini mencapai lebih dari Rp 1 miliar. Dengan masing-masing korban menanggung beban hutang yang tidak pernah mereka ajukan.

Baca Juga :   Truk Listrik Mitsubishi Fuso eCanter Resmi Dipasarkan

Lutfi mengungkapkan bahwa total tagihan dari berbagai platform pinjaman online mencapai Rp 1,1 miliar. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran yang mendalam di kalangan masyarakat mengenai keamanan data pribadi. Serta potensi penyalahgunaannya oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

” Baca Juga: Pernikahan Chand Kelvin Dan Dea Sahirah “

Tindakan Hukum dan Penyelidikan

Atas kejadian ini, Lutfi dan para korban lainnya melaporkan kasus tersebut ke Polres Metro Jakarta Timur. Mereka juga telah menyerahkan kasus ini kepada kuasa hukum mereka untuk mendapatkan pendampingan hukum. Muhammad Tasrif Tuasamu, selaku kuasa hukum para korban, menyatakan bahwa ia bersama dengan delapan orang perwakilan korban mendatangi Mapolres Metro Jakarta Timur. Untuk mengikuti agenda pemeriksaan saksi oleh penyidik dari Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim).

Tasrif menjelaskan bahwa laporan ini telah diajukan pada 5 Juni lalu dengan dasar tindak pidana penipuan dan penggelapan. Modus yang digunakan oleh pelaku sangatlah jelas, yakni dengan menjanjikan pekerjaan kepada korban di toko ponsel. Namun kemudian data pribadi mereka disalahgunakan untuk mengajukan pinjaman online. Tasrif menekankan bahwa mereka memiliki dasar hukum yang kuat untuk melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian. Serta mereka berharap agar pelaku dapat segera ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku.

Kasus penipuan dengan modus pinjaman online ini menjadi peringatan bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam menyerahkan data pribadi kepada pihak yang tidak dikenal. Kejadian ini menunjukkan pentingnya menjaga keamanan data pribadi dan melaporkan segera setiap tindakan mencurigakan yang dapat merugikan. Pihak berwajib diharapkan dapat segera menindak pelaku dan memberikan keadilan kepada para korban yang telah mengalami kerugian finansial dan psikologis akibat penipuan ini.

No More Posts Available.

No more pages to load.